Proses Beradaptasi Merupakan Ajaran Tertua dari Peradaban Manusia

 

Berani berubah dan beradaptasi dengan situasi terjepit yuk..

“manusia adalah makhluk yang paling lentur dalam berdaptasi dengan lingkungan dan kondisi..”

Assalamualaikum..

Setelah sekian lama meninggalkan menulis di blog karena beberapa hal , mungkin hari ini saya akan mulai aktif kemabli menulis di blog ini.

Oke, kita akan mulai dari mana ya?

Mungkin kita akan bicara soal kondisi new normal saja. Sebuah kondisi yang sedang melanda sebagian besar belahan dunia saat ini. Kita semua tahu, bahwa wabah pandemik covid 19 tengah melanda warga bumi. Dan bumi beserta isinya sedang dinyatakan sakit .

Kalau tidak salah, sekitar bulan Maret lalu tahun, pemerintah resmi mengumumkan di berbagai media , bahwa wabah mengerikan ini sudah merajai dunia, termasuk negara kita, Indonesia. Seketika kehidupan pun berubah, total.

Anak-anak sekolah di rumahkan, orang yang bekerja di luar rumah, di rumahkan, aktivitas di luar rumah sangat dibatasi. Tahukah akibatnya apa bagi roda kehidupan masyarakat?

Semua latah menggunakan media online. Mulai dari kegiatan belajar mengajar, bekerja, memenuhi kehidupan sosial, seperti berjejaring, silaturahmi dan sebagainya.

Lantas apakah masalah sampai disini selesai?

Apakah pemenuhan kebutuhan bisa teratasi dengan kegiatan melalui online?

Big No..

Masalah baru muncul. Unit terkecil dalam masyarakat yakni keluarga harus saling bahu ,embnahu mulai beradaptasi dengan keadaan ini. Keadaan yang dimana tidak pernah ada dalam planning orang, namun dipaksakan harus dihadapi setiap orang.

Namun, rupanya manusia sebagai makhluk sosial, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, sangat lentur dalam beradaptasi.

Bukankah dalam sejarah peradaban manusia, adaptasi merupakan pelajaran tertua di bumi ini?

Ingatkah bagimana dulu kisah Adam dan Hawa yang juga beradaptasi dengan kehidupan bumi, setelah sekian lama merasakan  nikmatnya kehidupan surga?

Mereka merasa lelahkah, putus asakah?

Entahlah..

Namun nyatanya sampai saat ini sekian ribu tahun berlalu, kita masih ada. Manusia masih ada. Itu buktinya kita manusia dibekali software paling canggih oleh Allah SWT untuk mampu memindai perubahan. Sebesar apapun, perubahan itu.

Yaaa.. memang tidak ada yang namanya langsung klop dengan si perubahan. Ibarat menemukan kekasih hati, pasangan hidup, ada tahap penjajakan, saling mengenal satu sama lain. Hingga pada akhirnya jatuh cinta dan memutuskan hidup bersama. Lalu dimulailah kompromi untuk saling menyesuaikan demi menyeimbangkan perubahan . bahwa hidup berdua, dan berpasangan akan sangat berbeda dengan hidup sendiri. Dan seterusnya..

Yaa, mungkin inilah bentik curahan hati saya akan perubahan yang terasa sangat memaksa ini. Banyak hal yang sudah tergilas, kekecewaan pada waktu belajar anak-anak diluar rumah, kebersamaan dengan rekan dan keluarga, serta kehidupan bagai orang asing, keran manusia satu sama lain sudah sangat sibuk mneyelamatkan perutnya masing-masing.

Yang paling menyedihkan tahun ini  adalah, ketika anak sulung kami akan menyelesaikan pendidikan dasarnya, mereka harus menempuh dengan cara drive thruu alias via daring. Dimana ujian akhir nasional di tiadakan, pertemuan secara kerumunan tidak dibenarkan. Maka ketika saat mereka bertemu dengan temannya terasa sangat asing satu sama lainnya. Hampir terlupa ada ikatan emosional yang sudah terbina hampir selama kisaran 6 tahun lamanya. Dan bisa ditebak, acara perpisahannya terasa garing, kayak gorengan . Hambar..

Oke, mari kita runut apa saja kondisi terjadi setelah masa wabah pandemi covid 19 ini, dari sudut pandang seorang ibu rumahtangga seperti saya:

1.      Manajemen waktu sangat berantakan.

Sebagai ibu dengan 4 orang anak, rumah kami memang sangat ramai sehari-harinya. Namun selam ini kami menerapkan daily activity. Anak-anak dengan segala kegiatan sekolahnya memiliki jadwalnya senmiri sampai kegiatannya di rumah. Semua kami buat jadwal dengan rapi, agar semua anak dapat menikmati harinya dengan baik. Kegiatan sekolah lancar, dan kegiatan domestik juga lancar. Anak-anak sehat, bahagia. Sebab seimbang kebutuhan jasmani da rohaninya serta sosialnya secara proposional.

Namun, sejak abah pandemik ini melanda dunia, semua berubah total. Semuanya keluar dari jadwal. Ketiga anak saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, serta seorang lagi si bungsu yang masih bayi, memiliki jadwal yang cak-acakan. Whoaaa..hectic sekali rasanya di awal-awal musim pandemi. Keriuhan setiap harinya hampir tidak bisa dihindari. Jadwal saya pribadi pun menjadi sangat berantakan. Kapan waktunya menemani anak-anak belajar, kapan mengasuh bayi, mengurus urusan rumahtangga yang terasa semakin tidak ada habisnya, dan menjaga kesehatan keluarga.

Namun, setelah sekian bulan berlalu, saya berpikir hal ini tidak b isa dioiarkan. Kita harus kelluar dari kekacaun ini. Buru-buru beradapsai. Sadar akan perubahan yang yang harus segaear dibenahi. Sebagai orangrua, kami mengambil langkah untuk mengedukasi anak-anak sebagai langkah awal, bahwa memang inikah nkindisi yang harus kita jalani. Kita susun ulanh jadwal harian, kita buat hari-hari dirumah sehepi mungkin, agar kesehtan mental senantiasa terjaga dengan bai. Karena paling penting kesehtan mental yang harus dirawat terlebih ndahulun dlam rumahtangga. Iya kan..

2.      Anak-anak dirumahkan.

Dunia anak-anak iyu adalah bermaina. Bermani dengan dengan teman sebayanya sembari mnegbela dunia memlaui dunia pendidikan dan bergaul dengan para bguru sebagai unit masyarakat mereka. Namun ketika aktivitas itu ditiakan, alias sekolah dijalani dari rumah apa yang terjadi? Anak-anak merasa bosan, terkunkung dalam rumah, energi anak-anak nya tidak tersalurkan dan malah memicu koflik  sesama anggota keirga. Anak-anak jadi gmapang tersulut marah, satu sama lain  berebut perhatian orangtuanya. Namun saya bersyukur juga anak kami selam ini belum terpapar gadget, sehingga aktivitas harian meteka masih bisa di kontrol baik oleh saya. Sedapat mungkin saya dan suami memutar otak untuk menyibukkan anak-anak dengan kegiatan yang tidak meluku melibatkan gadget. Penggunannya kami batasi hanya sampai durasi 2 jam, dari gadget milik saya yang bisa dinikmati via laptop. Mislanya mreka kami ijinkan menonton tayangan youtube pengetahuan, film dokumenter, film katrun (karena kami tidak memberlakukan adanya menonton televisi di ru,mah).

Dari sudut pandnag saya sebagai ibu, rasanya berhasil membuat anak-anak berkegiatan. Namun rupanya tidak 100 persn benar dari sudut oandang anak-anak. Mereka kehilangan masa kanak-kanaknya, benrmain dengan teman sebyanya. Mereka tidak hanya butuh kami orangtuannya untuk tumbih kembangnya, namun membuthykan lingkungannya juga.

Untungnya, anak-anak kami jarak usianya berdekatan. Si sulung tahun ini lukus SD dan masuk SLTP yang sekolahnya dekat dari rumah (nanti ingin cerita juga bagaimana pada akhirnya ia kami sekolahkan di sana), si putri satu-satunya duduk di SD kelas 6 dan si bungsu nggak jadi duduk di kelas 5. Serta  si sbugsu yang masih bayi setahun.

 

3.      Para suami banyak yang bekerja dari rumah. Nah inilah masalah yang krusial sebenarnya. Ketika aktiviats serba terbatas, maunya kita keungan jangan sampai terbatas juga. Namun kenyatanya, banyak kepala kelurga yang harus bekjerja dari rumah. Bagi mereka yang memiliki pekerjaan tetap dan rutin mendapat gaji setiap bulannya, barangkali hal ini tidak terlalu berpengaruh besar terhadap incomenya. Namun bagaimana bila orang yang bekerja secara freelance, serabutan, pendapatan tidak menentu tiap bulannya, tentu WFH (Work From Home) sangat berpengaruh besar terhadap cashflow keuangan kelurga.

Adaptasi terhadap ekonomi agaknya kegiatan yang agak sulit dilakukan , termasuk saya sendiri. Penegluaran harus ditekan sedemikian  rupa untuk dialokasikan kepada posko yang lain. Belum lagi situasi suami yang bekrja dari tumah akan mengubah ritme kerjanya juga. Misalnya, pada saat ia bekerja via daring menggunakan gadget atau laptop, anak-anak mengira ayahnya tengah bermain game. Atau ketika si ayah mau mencari pojokan rumah untuk menelpon bisnis, sudah terisi oleh anak-anak yang sedang SFH (Shcool From Home). Rasanya kayak rebutan area rumah yaa..

Nah, sementara si ayah WFH dan anak-anak SFH, kegiatan makan, minum, cuci, masak enggak berhenti dong. PR besar lagi nih buat para ibu-ibu..

4.      Penegluaran tidak terduga makin besar, kuota mislanya dan listik.

Selama masa pandemi banyak isu yang meneybutkan bahwa tagihan listrik dan kuoita makin meingkat tajam. Itu benar adanya. Mari kita behitung. Ketika hampir 100% kegiatan selutruh anggota kelurga dilakukan dari rumah, seperti belajar, belerja, otomatis peralatan seperti ponsel, laptop, harus terus menyala. Dan itu memakamn listrik yang beasar.

5.      Me time, hampir sulit dilakukan.

Di sosial media betebaran meme seperti ini; me time, apaan tuh? Ini artinya para IRT mulai mengeluhkan jenuhnya dengan aktivitas di rumah yang tak kunjung selesai. Cucian menumpuk, masakan harus selalu ada, anak-anak yang hilir mudik di dalam rumah menyebabkan rumah tampak berantakan sellu. Lalu kapan kita menemukan me time?

Nah, saya selelu beruhasa terus menemukan me time. Iyalah me time untuk IRT di masa pandemi bagai berlian. Berharga sekali demi menjaga kerawasan jiwa raga. Salah satu kegiatan yang saya laukan untuk mengsis me time adalah megasah kemapuan memasak. Yaa.. sekali mertemgkuh dayung dua tuga pulau terlampaui. Dari pada menjadikan kegiatan memasak menajdi masalah, saya malah mejadikannya sebagai me time yang meghasilkan uang. Heheh..

Mendulang rupiah di tengah musibah judulnya yaa..

Saya menggeluti secara serius bisnis dari aktivitas memasak ini. Jualan rendang dengan brand rendang lazid, adalah berkah bagi saya di tengah himpitan situasi yang membuat banyak orang teriak. Saya menjualnya di Instagram, FP, WA, Website, FB  bahkan di marketplace. Ahh, saya nanti mau cerita banyak mengenai kegiatan berbisnis kuliner ini yaa.. Mulai dari filosofi nama brand, pemilihan logo, target pasar, dan sebaginya.

6.      Namun, musibah ini membawa peruntungan bagi sebagian orang, saya juga termasuk salah satunya, yakni terciptanya peluang bisnis yang dikerjakan secara online dan offline. Sellu ada hikmah dibalik musiabah. Demikan kata-kata oramg bijak. Tuhan tidak mencipyakan maslaha tanpa solusi.

Ketika pengeluaran semakin besar, aktivitas yeng mulai makin menjemukan dirumah saja, maka saya memutuksan berbisnis. Bisnis yang saya deklarasikan ingin panjang sampai kelak ingin diwariskan kepoada anak ccucu.

Seserius itu? Tentu saja. Karena saya melihat ada peluang yang cukup besar dalam bisnsi. Walauoun kenytaannya tidakalah mudah ,membangun bisnis dalam kondisi yang tidak normal begini. Dimana daya beli masyarakat senebernya tidaklah tinggi, perputaran uang hanya di selingkaran masyarakat bawah, dan ditambah lagi dengan slogan “the power of kepepet” heheh..

Dalam blog berikutnya saya akan bercerita banayk tentang bisnis ini yaa.. pelatihan apa saja yang diikuti, mindset sebagai pebisnis seperri apa yang inguin dicapai, target, planning, komunitas dan sebagainya. Hanya, saya niatkan dari awal, bahwa berbisnis ini sebagai salah satu wasilah saya untuk bermuamalah dengan manusia lainnya.

Saling tolong menolonmg dengan sesama manusia dalam kebaikan adalah hal yan g mulia. Sebagai pebisnis kuliner rendang, saya ingin m,empermudah orang lain untuk membadaoatkan kebutuhan mereka akana makanan.

Konon menurut para pakar ekonomi negara ini, pangsa pasar dibidang makanan di m usim pamdemi lumayan terbuka luas. Dimaping saya suka kegiatan memsaka, pasarnya ternyata luas pula. Maka nikmat Allah mana lagi yang hendak di dustakan..

 

Oke, sampai jumpa lagi yaa dalam cerita saya berikutnya. Semoga bisa diambil manfaatnya. Mohon krisannya yaaa..

Wassalamualaikum..

Tidak ada komentar:

terimakasih sudah berkunjung, dan mohon maaf komennya di moderasi dulu yaa..

Diberdayakan oleh Blogger.