Temanku Cuma Satu

Foto by. Pixabay


Hai, di tahun 2021 ini aku tetiba kalap ikutan beberapa chalenge nulis termasuk di Sahabat Hosting ini. Ketika admin kasih tema soal teman. Wow, tetiba speechleess loh. Mau nulis apaaa ini. Okay, tapi karena blog ku, yaa boleh curcol yakaaan.. Karena sepertinya bakal kalian suka deh.

Pas baca judulnya, kalian nggak salah kok. Whaaat? Temenku cuma satu. Nggak kurang dan nggak lebih. Satu. The only one. Siapa yaaaa.. That's right. Suamiku tercinta.

Suatu hari di tahun 2020, si sulungku yang berusia 13 tahun tiba-tiba bertanya, "Mama punya teman nggak?" 

Spontan ku jawab, "Enggak ada. Teman Mama cuma satu, Papa doang."

Yaaa, demikianlah faktanya. Seseorang bisa ku sebut teman, cuma satu. Sejak awal kami berteman baik sampai menikah. Mungkin kalau diceritakan hampir mirip seperti film Teman Tapi Menikah yang dibintangi Adipati Dolken itu barangkali.

Jadi, tema ini sangat related dengan kehidupan pribadiku. Dan mungkin juga dengan kehidupan kalian yaaa.. Btw, di postingan kali ini kayaknya aku bakal pure curhat sajolah.. Hehe..

Ketika si sulung bertanya tentang siapa temanku, defenisi teman menurutku adalah : seseorang yang selalu ada buat kita, memberikan atas support apapun yang dilakukan, bisa memberikan pencerahan dalam hidup dan tulus. Makanya langsung kujawab, cuma satu. Papanya anak-anak, alias suamiku tercinta.

Sebagai seorang introvert, aku kesulitan untuk mempercayai orang lain dan membuka komunikasi dengan baik dan benar. Jadi, kalau kalian bertemu aku entah dimanapun, mungkin nggak bakalan menyapa duluan. Bukannya sombong sih, lebih kepada nggak tau mau mulai dari mana dan caranya. Haha.. Parah yaaa.

Eitsss, beda kalau aku di dunia maya. Yes, dunia maya memang diciptakan buat orang-orang introvert sepertiku supaya kami bisa bersembunyi di balik teks, gambar dan visual yang terkesan ramaaah tamah gemah ripah loh jinawi. Terpujilah wahai pencipta aplikasi-aplikasi sosial media. Kalian pahlawan bagi kami, kaum introvert.

Baiklah, mari kita bahas jeroan si temanku itu. Ehh, maksudnya kenapa levelnya dia adalah teman menyenangkan menurutku:


Bersamanya, ku bisa jadi diri sendiri

Buatku ini penting banget sih. Ketika kita berteman, dengan satu orang yang bikin kita nyaman dari segala hal, biasanya kita bakal bisa jadi diri sendiri. Dengan kata lain, kalau mungkin ketika bergaul dengan orang lain, kadang kita masih memiliki pakem yang kuat. Seperti manner, tata krama, sopan santun dan semua yang berkaitan dengan norma-norma yang berlaku umum di masyarakat. 

Misalnya kayak aku nih, ketika awal kenal mungkin yang terlihat adalah aku yang jaga jarak walaupun bukan dalam masa PSBB yaa.. Padahal, nggak begitu kalau sama teman yang saya anggap sudah sangat dekat denganku. 

Nganuh, teman dekatku kan cuma satu ya. Cuma dia (sekarang sudah jadi suami) hehe.. bahkan menurut dia, aku ini tipe perempuan bawel. Aku kalau sudah ada uneg-uneg maunya ngomooong melulu bahkan bisa 3 jam nonstop. Weh, udah kayak penyiar radio gitu..


Dia harus sosok yang `tahan banting`

Nah, karena sifat bawaan yang sulit menerima orang baru dan mood swing, aku terkesan bosenan orangnya. Entah kenapa sebagai anak perempuan pertama di dalam keluarga yang kata orang biasanya punya ego diatas rata-rata (ini kata beberapa kawan di kampus dulu), penyuka buku sejak kecil dan otomatis kuper alias kurang pergaulan, aku membutuhkan seorang teman yang ‘tahan banting’ menghadapi diriku.

Ada suatu masa aku berpikir, sepertinya kalau aku nggak menemukan teman yang benar-benar bisa menerimaku apa adanya, nggak banyak nuntut, peduli dengan apapun yang kulakukan sereceh apapun, mungkin aku nggak akan pernah menikah. Ini pernah aku sampaikan kepada orangtua, dulu. Reaksi mereka? Ya ngamuk lah.

Dan memang sudah terbukti, si temanku ini, mampu memimpin aku, mengarahkan aku mesti gimana bila galau mengambil sebuah keputusan penting, dan kalau lagi mood swing dia bisa jadi moodbooster-ku. So sweet yaaa..


Dia punya ‘nilai’ lebih

Ini poin terpenting loh. Buat apa bergaul dengan seseorang bila dia tidak mempunyai nilai lebih yang bisa membawa pengaruh positif buat kita. Kayak ngitung-ngitung yaa. 

Sepemahamanku, saat kita berteman dengan orang yang punya attitude bagus seperti disiplin, tegas, punya arah dan tujuan yang yang jelas, maka sedikit banyaknya hal tersebut bakalan memberi pengaruh terhadap diri kita. Dan itu menjadi ‘nilai’ lebih yang patut di apresiasi. 

Karena menemukan seorang jenis teman dengan paket komplit tersebut pasti tidak mudah. Butuh waktu untuk menemukannya dan ditemukan olehnya. Cieee..

Memang, kita diajurkan bergaul dengan siapa saja. Tanpa pilih-pilih teman berdasarkan ras, suku, agama, strata sosial, tingkat pendidikan dan lain sebagainya.

Seperti kata pepatah Minang, urang minang ko indak ado nan mambuang lamak. (Lamak disini artinya, lemak-lemak yang terdapat pada daging, biasanya tidak semua orang menyukainya).

Dengan kata lain, adat istiadat kita pun mengajarkan bahwa tidak eloklah rasanya membeda-bedakan seseorang untuk dijadikan kawan. Namun, perlu diingat juga bahwa ada anjuran juga untuk bergaul dan mencari teman yang positif serta mampu mengajak kita pada kebaikan.

 

Nah, inilah teman yang menyenangkan versi aku yaa.. semoga ada ibrah yang bisa kalian ambil dari cerita saya yang pure curhat ini.

 

#Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Days Writing Chalenge Sahabat Hosting

 

 

Tidak ada komentar:

terimakasih sudah berkunjung, dan mohon maaf komennya di moderasi dulu yaa..

Diberdayakan oleh Blogger.