Inilah 5 pertanyaan sulit dan sensitif yang kerap dilontarkan anak laki-laki kala memasuki masa pubertas


Foto.by Mommiesdaily.com

Benarlah adanya bahwa seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi seorang anak. Tempat ia bertanya apapun soal dirinya dan isi dunia. --Nova Yulfia--


Bulan Desember tahun ini, si sulung saya akan memasuki usia 13 tahun. Saat ini ia sudah duduk di bangku kelas 7 di sebuah SLTP di kota kami. Tubuhnya sudah menjulang tinggi melebihi tinggi badan saya. Kebetulan di rumah, kami mempunyai meteran lipat. Iseng-iseng saya mengukur tinggi badannya. Voilaaa.. sudah mencapai 163 cm. Sedangkan saya hanya 160 cm saja. Okay, bro.. Mama akan dedikasikan tulisan ini untuk menandai fase penting dalam hidupmu.

Setelah flasback lagi, kami sempat berbincang santai mengenai perubahan yang mulai dialaminya sejak beberapa bulan belakangan ini. Yaa, pertumbuhan anak remaja pada masa transisi ini memang teramat pesatnya. Padahal sekitar semester lalu, ia masih tampak sangat bocah dengan seragam merah putihnya. Hmm.. waktu memang cepat berlalu tanpa terasa yaa..

Oya, sejak awal ia masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar, saya sudah mewanti-wanti untuk menceritakan apapun perubahan yang terjadi pada tubuhnya termasuk perubahan perasaannya. Maka muncullah 5 pertanyaan sensitif yang rasanya sulit memberikan jawaban ringkas dalam formulasi bahasa remaja awal yang baru menginjak masa pubertas.

Berikut 5 pertanyaan penting tersebut, serta jawaban saya yang ringkas serta mudah dipahami anak remaja laki-laki seusia anak saya.


Kok aku makin tinggi yaa..

Setelah hampir 9 bulan tidak bersekolah secara offline, suatu ketika kami bertemu teman-temannya di sekolah saat mengambil ijazah sekolah dasar. Lalu ada wali murid yang berkomentar, tentang tinggi badan si sulung, di sekolah SD ia dipanggil Kia, yang melebihi sebagian teman-temannya. Seperti baru sadar dengan tinggi badannya yang melonjak pesat sejak lulus SD, kami pun memberlakukan wajib berolahraga ringan buat Kia. Supaya otot dan pertumbuhan badannya maksimal, ditambah lagi dengan meningkatkan gizi makanannya. Syukurlah dia tidak rewel soal menu makanan yang disajikan setiap hari. Menu 4 sehat 5 sempurna sudah menjadi kebiasaan dirumah. Sayur yang biasa menjadi momok bagi sebagian anak, bagi keluarga kami, untungnya tidak.

Olahraga yang dia lakukan, streching setiap pagi sekitar 20-30 menit, berjemur kalau tidak hujan. Kadang ditambah dengan olahraga bersepeda, bermain badminton atau joging ringan di akhir pekan bersama kedua adiknya.

Menurut penelitian American Academy of Pediatrics (AAP), dikatakan bahwa seorang anak membutuhkan sekitar 60 menit berolahraga fisik setiap harinya. Gunanya tidak hanya untuk kesehatan fisik saja, namun juga berpengaruh pada psikologisnya. Diantaranya menambah kepercayaan diri, kemampuan belajar meningkat sebab suplai oksigen ke otak makin baik, dan juga untuk menekan stres pada anak remaja. Apalagi dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), anak remaja kita cenderung malas bergerak. Jadi, nggak heran yaa ternyata pertumbuhan badan yang pesat merupakan salah satu ciri anak sudah mulai besar.


Si jerawat mulai menghiasi wajah tampannya

Ehhh, kok saya perhatikan si sulung mulai doyan ngaca ya. Ooo.. ternyata ada jerawat yang mulai muncul di area wajah gantengnya. Pertamakali jerawat itu tumbuh di area T, hidung, kening. Pori-pori wajahnya pun mulai membesar. Karena belum paham, setiap mandi dia hanya cuci muka menggunakan sabun mandi saja. Pantaslah komedo sebagai calon jerawat mulai bermunculan.

“Ma, kenapa ada jendolan kecil-kecil di wajahku ya?”, tanyanya suatu hari.

“Owh, sayang, itu namanya komedo calon jerawat. Kalau kamu pencet, bakal iritasi dan nanti jadi jerawat. Dan jerawat adalah sahabat para remaja. Karena memang hormon di tubuh kalian sedang memanjakannya.”

Karena rasa penasaran yang sangat tinggi, si komedo yang tidak bersalah tadi jadi sasaran pencetan. Taraaa.. jadilah jerawat kecil-kecil yang bikin gemes minta di pencet lagi. Ehhh.. nggak doong. Nanti malah makin parah. Lalu kami mulai berburu sabun wajah yang sesuai untuk kulit wajahnya. Sejauh ini sabun dengan bahan dasar madu tersebut, masih cocok di kulitnya yang sedikit berminyak.

“Ingat ya sayang, bedakan pemakaian sabun untuk mandi dan cuci wajah. Karena komposisinya pun tidak sama. Alias, tujuan penggunaannya juga beda.” Demikian saya berpesan pada si sulung yang seringkali masih terciduk mencet-mencet jerawat keci-kecilnya. Uhhh.. susah juga melarangnya.


Kenapa bau badanku beda?

Sejak duduk di bangku SD kelas 5 kami sudah melatih anak-anak untuk mandiri. Diantaranya mencuci sendiri pakaiannya. Lalu, suatu hari, saat mencuci bajunya, ia bicara pada saya bahwa area ketiak bajunya berbau aneh.

“Ma, kok bajuku baunya aneh gini?”

Okay sayang, hormon di tubuhmu mulai berkembang dan bertumbuh. Aroma tubuh itu tergantung makanan yang kita makan.

Sebagai orang Minang, saya memang seringkali menyajikan hidangan khas daerah kami yang kaya akan rempah. Menu rendang yang sangat lezat adalah andalan keluarga dan disukai anak-anak.

Mungkin itu jugalah yang menjadi pemicu aroma kuat pada keringat remaja saya. Dari beberapa literatur yang saya baca,  faktor makanan yang kaya akan rempah mampu menimbulkan bau badan. 

Maka,  sejak itu menu sayuran menjadi sangat penting di setiap makan besar dan segera saya ganti sabun mandinya dengan sabun anti bakteri yang banyak dijual di pasaran.  Kedua cara tersebut,  terbukti ampuh mengurangi aroma tak sedap dari keringat.


Hey, kemaluanku ukurannya nambah dari sebelumnya, penyakit nggak sih?

Sejatinya seorang ibu,  segala perubahan yang terjadi pada anak, pasti menjadi bahan pikiran dan juga ajang menambah pengetahuan.  Makanya tak heran jika menuntut ilmi itu wajib hukumnya bagi umat muslim.  Sebab, manusia terus berubah dari waktu ke waktu.  Dan untuk menyelaraskan semuanya,  butuh ilmu. 

Yaaa,  seperti menghadapi pertanyaan sulit dan sensitif dari remaja sedang memasuki usia pubertas. Saranku,  ketika pertanyaan itu mereka sampaikan, tanggapi seperti halnya seorang teman yang sedang bercerita saja. Supaya ia tak ragu bertutur serta mendapatkan jawaban yang tuntas,  langsung dari kita,  orangtuanya. 

Jadi,  suatu hari setelah mandi sore,  si sulung mendekati saya dan bertanya perihal alat kelaminnya.

"Ma,  kalau badanku nambah tinggi,  kelamin ikut nambah besar juga kah?"

"Tentu, sayang.  Coba perhatikan fotomu saat bayi dulu,  beda jauh kan dengan sekarang.  Itu normal kok.  Tenanglah.. "

"Tapi bukan penyakit kan?"

"Tidaklah."

Waduh, mulai kalut dia.  Ketika menyadari tubuhnya mulai bertumbuh menjadi lebih matang menjadi laki-laki dewasa,  seperti ada kejutan baru terus setiap fasenya.  Makanya si remaja ini butuh didampingi ya Moms.. 


Aku ngompolnya aneh, kayak ingus gitu..

Ooo,  sulungku sudah resmi dan sah jadi remaja.  Awalnya dia mengira cairan yang keluar itu penyakit. Sempat ia sembunyikan beberapa hari.  Namun demi memuaskan rasa penasarannya,  pertanyaan sulit itu pun dilontarkan. 

"Ma,  aku ngompolnya aneh deh.  Kayak ingus gitu.  Penyakit ya? "

"Ohh, itu cairan mani namanya.  Ada kan di pelajaran Fiqih waktu di sekolah SD kemarin.  Dalam ilmu fiqih,  namanya mimpi basah.  Normal kok,  bagi setiap laki-laki yang memasuki masa akil balig.  Selamat yaa Nak.."

Akhirnya kami diskusi panjang mengenai hal-hal seputar pubertas. Banyak pembicaraan rahasia antara ibu dan anak jelang dewasa sebagai bekal ia kelak meniti hidupnya. 


Mom,  Keterbukaan akses ke dunia internet saat ini sangat memudahkan anak-anak kita mencari tau tentang segala hal.  Namun alangkah baiknya info yang ia butuhkan,  didapat secara langsung dari kita,  orangtuanya. 

Terkadang pertanyaan sulit yang dilontarkan tersebut,  harus segera dijawab dengan tuntas dan ada juga yang ditangguhkan.  Harus mencari waktu dan formulasi bahasa yang tepat. 

 

1 komentar:

  1. Sebentar lagi akan bertambah pertanyaan seputar ketertarikan terhadap lawan jenis. Hehe. Semangat mbaa.. Anakku yg cowok masih cilik, masih 4thn. Tapi baca ini jadi ngebayangin oneday dia udah beranjak dewasa. Hahaha.. padahal masih lama yak #tepokjidat

    BalasHapus

terimakasih sudah berkunjung, dan mohon maaf komennya di moderasi dulu yaa..

Diberdayakan oleh Blogger.