Unsur Pornografi dalam Konten Game Roleplay sudah sangat Meresahkan para Orangtua



Foto. Hitekno.com


Halooo Mommy.. 

Sudah pada dengar hot issue minggu ini di sosial media?  Iyaass,  soal game roleplay yang bikin heboh sejagat maya itu.  Ibu-ibu pada komen khawatir soal anak-anak mereka.  Intinya orangtua kecolongan,  dengan game satu itu.  

Mungkin sekarang,  Mommy melakukan sidak alias inspeksi mendadak terhadap gawai anak dan remaja dirumah.  

Emang segimana sih tingkat keparahan game roleplay itu Moms? 

Wait,  kita bahas satu-satu yaaa..  

Fenomena RP game nyatanya sudah meluas dan memiliki dampak negatif pada anak. Game saat ini lebih mudah diakses melalui gadget yang hampir setiap saat berada di tangan kita atau anak-anak kita. 

Dari sekian macam model game yang tersedia di gawai tersebut, ternyata tidak semuanya aman dimainkan oleh anak-anak. Misalnya yang sedang viral belakangan ini adalah RP (game) atau roreplay. Hmm..  Auto rame-rame kepoin deh game nya yakaaan.. 

Padahal, permainan RP atau roleplay atau permainan peran pada dasarnya sudah ada sejak dahulu kala loh. Anak-anak era tahun 90-an pastinya sangat akrab dengan mainan peran rumah-rumahan. Ada yang berperan jadi orangtua, peran anak dan sebagainya. Untuk mendapatkan peran itu masingnya biasanya ada kesepakatan diantara semua pemain. Seru banget loh jaman itu. 


Seiring berkembangnya teknologi, permainan peran tersebut sudah tersedia dalam bentuk game yang bisa dimainkan melalui gawai saja. 


RP game awalnya di viralkan oleh sekelompok remaja yang tengah mengandrungi tokoh Anime, Kpop dan artis barat di Twitter sekitar tahun 2018 lalu.

Cara mainnya, gimana? 

Okay,  kira-kira lebih kurangnya begini, para pecinta tokoh permainan tersebut membuat akun di Twitter dan memposting status ke timeline-nya seakan si tokoh memerankan tokoh yang diinginkan. Jika akun RP game yang diperankan sesuai dengan karakter dan tokoh maka ia disebut dengan IC (In Character). 


Lalu ada lagi yang namanya OOC, yakni akun yang menyimpan karakter tokoh yang dimainkan.


Intinya semuanya sandiwara saja. Pura-pura berperan sebagai tokoh anime yang disukai dan bertindak seakan itu adalah di tokoh.


Yang jadi masalah saat ini dan jadi perbincangan hangat di kalangan orangtua dan bahkan viral di dunia maya, yakni game tersebut dimainkan oleh anak-anak. Sebab, game yang sejatinya untuk dimainkan oleh oranng dewasa dibumbui adegan kurang pantas utuk di tonton dibawah usia 18 tahun. Sampai disini paham ya Moms,  kenapa kita pada resah sama kejiwaan anak-anak kita terkait game RP ini.


Menurut sejumlah pemberitaan, para pelaku game RP tersebut masih duduk di bangku SD,SMP dan SMA. Namun mereka sudah fasih melakukan adegan dewasa secara verbal dan non verbal di media sosial. Ya Tuhan.. Sebentar,  saya tarik napas dulu nulis ini.  Kebayang sedihnya para orangtua yang anaknya udah terlanjur memainkan game RP. 


Lanjut yaa,  

Jadi game ini semacam kegiatan virtual sex, dimana pertemuan dua orang atau lebih saling terhubung via internet dengan mengirimkan hasrat seksual melalui teks, audio dan video.


Lantas sejauh mana game RP tersebut mampu meresahkan para orangtua yang kecolongan terhadap dunia game sejenis ini?


1.      Konten game yang sarat mengandung pornografi.

2.      Candu yang diakibatkan dari game yang mengandung pornografi sangat kuat

3.      Kecintaan yang sangat luar biasa terhadap tokoh RP sehingga pelaku sulit membedakan antara kenyataan dan bukan

4.      Petualangn sex bagi pelaku


Moms,  sebuah penelitian tentang psikologis anak dan remaja yang telah dirilis sejak tahun 2012 lalu mengatakan, bahwa anak dibawah 16 tahun sangat riskan terhadap gadget dan ia belum mampu memenuhi keingintahuannya lantas mencoba-coba hasrat seksualnya melalui dunia cyber. 

Karena ruang lingkupnya tidak terjangkau orangtua, dan pengawasan orang-orang terdekat. Ketemu yaa missingnya disini.  Pengawasan kita.. Huhu.. 

 

Lalu bagaiman peran kita sebagai orangtua bila anak dan remaja kita terlihat ada gelagat aneh terkait game yang ia mainkan?

1.      Kontrol pemakaian gadget. Ini mungkin sudh tidak bisa ditawar lagi. dengan kata lain, ada jam-jam tertentu anak bebas dari gawainya. Tentunya di luar kegiatan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dan SFH (School From Home).

2.      Berikan sex education di rumah. Tema ini bisa dibahas secara santai dan ringan saja. Seakan sedang berdongeng dengan formulasi bahasa yang dipahami anak remaja kita.

3.      Orangtua mau tidak mau harus belajar ilmu digital, seperti halnya anak. Supaya paham bagaimana cara membuka history dan memantau situs-situs yang dia buka.

4.      Perbanyak kegiatan membaca buku di rumah. Kegiatan PJJ ini memiliki dampaknya anak ada kebosanan dengan kegiatan yang monoton. Gawai lagi, gawai lagi. Selingan membaca buku fisik merupakan ide bagus untuk merefresh mata dan otak

5.      Pemakaian teknologi sepenuhnya adalah tanggung orang tua. Kita yang paham. Kapan anak pantas diberikan kepercayaan dan tanggung untuk memiliki gawai sendiri. Sebagian mungking pernah dengar kelimat seperti ini ,”siapa suruh anak SD di kasih gawai, bablas kan..”


Hay para Mommy,

Teknologi dan perubahan akan terus berlanjut mengikuti perkembangan zaman. Kita semua tahu akan hal ini. Namun soal tanggung jawab bagaimana teknologi tersebut untuk masuk ke dalam keluarga kita, circle kita dan digunakan , itu sepenuhnya merupakan tangung jawab kita sebagai orang tua dan sebagai filter pertama bagi anak remaja kita.


Tidak ada komentar:

terimakasih sudah berkunjung, dan mohon maaf komennya di moderasi dulu yaa..

Diberdayakan oleh Blogger.